www.aboebakar.com
** ZA Gelar Zikir dan Doa Bersama [30 Mei] ** Debat Cagub Kalimantan Selatan Lancar [29 Mei] ** Hanya Aboe Bakar Tak Mencoblos [29 Mei] ** Tim Kampanye Patuhi Masa Tenang [29 Mei] ** Simpatisan Tidak Bisa Ditertibkan [28 Mei] **
 
اِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُحِبُّ اَنْ يَرَى اَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
Sesungguhnya Allah Swt. senang melihat bekas nikmat-Nya atas hamba-Nya
— (HR. Hakim dari Ibnu Umar)


Kategori
Berita Fraksi PKS
Profil Singkat
No Anggota: A-92
Komisi: IX (Kependudukan, Kesehatan, Tenaga Kerja dan Transmigrasi)
Badan: Panitia Anggaran DPR
Telp/Fax:
5756436/5756437
Daerah Pemilihan:
KALSEL 1
Asisten:
Mutia Febrina
Ruang:
317 Gd Nusantara II Lantai 3
Email: aboebakar@cbn.net.id


Ada 8 Pengunjung online




Rabu, 12 Agustus 2009 12:58 | 2945 hit

Islam dan Pluralisme Agama

Pluralisme Agama: Ajakan Yang Sejak Lama Telah Usang

Datang sekelompok orang non-muslim kepada Nabi SAW. dan berkata,"Wahai Muhammad, bagaimana kalau kau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu, kau menyembah tuhan-tuhan kami selama setahun dan kami menyembah tuhanmu selama setahun, demikian seterusnya?" Nabi Muhammad SAW. menjawab,"Aku berlindung kepada Allah SWT dari menyekutukan-Nya dengan sesuatupun." Merekapun kemudian berkata,"Kalau begitu bagaimana kalau kau terima sebagian dari tuhan-tuhan kami, sehingga kami akan mempercayai tuhanmu?" Maka waktu itu Allah SWT. langsung mengintervensi dengan menurunkan surat pemisah antara monotheisme dan selainnya, baik polytheisme, atheisme, maupun pantheisme, yaitu surat Al-Kaafiruun. Nabi SAW pun bergegas ke Masjidil Haram dan beliau berdiri di tengah-tengah kerumunan orang banyak, muslim dan non-muslim, dan membacakan surat Al-Kaafiruun, yang berarti:

1.  Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,2.  Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.3.  Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.4.  Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,5.  Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.6.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."

Adapun tafsir dari surat tersebut di atas, berdasarkan etimologi bahasa Arab adalah: bahwasanya aku tidak akan menyembah apa-apa yang kalian, non-muslim, sembah, tidak sekarang, tidak esok hari, tidak juga di masa lalu. Begitu juga kalian. hai orang-orang non-muslim, sesungguhnya kalian tidaklah menyembah apa yang kami sembah, yaitu Allah SWT. semata. Yang kalian anut adalah agama-agama kalian, sedangkan yang aku anut adalah agama tauhid, pengesaan Allah SWT.

Penghidupan Kembali Pluralisme Agama di Jaman Modern

Di jaman modern, kita dapatkan akar-akar pandangan pluralisme agama mengalami penyuburan kembali di tengah-tengah berkembangnya pemikiran liberalisme politik di abad ke-18 di Eropa, yang baru terbebaskan dari belenggu siksaan agamis. Pemikir-pemikir Eropa di waktu itu bereaksi terhadap intoleransi agamis, yang kemudian membuahkan pemikiran bahwa segala jenis perang sectarian harus dihindarkan. Karena menyaksikan konsekuensi dari intoleransi agamis ini, maka para tokoh Kristiani Eropa waktu itu membanting setir,mencoba menyelamatkan kesucian ajaran mereka, dengan memberikan penafsiran-penafsiran prinsip-prinsip ajaran Kristen, demi keberlangsungan hegemoni mereka dan keberlangsungan perdamaian dan progress di Eropa, secara politik dan filosofi.

Pemikir utama di dalam pluralisme agama adalah Profesor John Hick, yang memberikan konsep pluralisme agama dengan mengeksploitasi pemikiran Kristen tentang pengorbanan, yang kemudian menyatakan bahwa hampir semua orang masuk surga.

Suatu hal yang ironis, John Hick menggunakan juga kisah gajah dan sekelompok orang yang tidak pernah tahu apa itu gajah, yang dinukil dari Mathnawi Jalaluddin Ar-Rumi. Hanya saja, sebagaimana rekan-rekannya, Hick hanya menukil potongan yang dia perlu, tanpa membaca atau melihat potongan sesudahnya yang merupakan penyempurnaan dari apa yang dia ambil. Karenanya, Hick telah melewati pesan atau pemikiran yang sangat penting yang Ar-Rumi mencoba untuk menyampaikan kepada pembaca:

 Sekelompok orang Hindu memiliki seekor gajah untuk  ditunjukkan. Tak seorangpun di sini pernah melihat gajah. Mereka membawanya ke dalam sebuah ruang gelap di malam hari. Kami satu per satu memasuki ruang gelap itu dan keluar menjelaskan definisi hewan yang kami raba.

 Salah seorang dari kami menyentuh belalainya dan berkata: bahwa gajah itu berbentu pipa. Seorang yang lain menyentuh telinganya dan berkata: gajah itu bagai sebuah kipas angina yang keras yang bergerak  ke depan ke belakang. Yang lain lagi memegang kakinya dan berkata: gajah itu bagai sebuah tiang silinder.  ............................................................................ ............................................................................ ............................................................................

 Telapak tangan dan jemari merasakan di kegelapan bagaimana perasaan (senses) mengeksplorasi hakikat gajah.

 Seandainya setiap dari kita membawa lilin ke ruang itu, dan masuk bersama-sama, maka kita akan melihat bagaimana gajah itu sesungguhnya.

Ar-Rumi mencoba menerangkan mengenai keterbatasan alat panca indera kita, dan dia tidak berbicara mengenai akal di awal-awal ceritanya. Hick jelas-jelas salah dalam kesimpulannya yang menyatakan bahwa setiap agama benar dan mengajak kepada yang benar, bagaikan orang-orang ‘buta' yang mencoba mendeskripsikan gajah. Wahai seandainya mereka dapat ‘melihat', seandainya mereka, yang di cerita Ar-Rumi, membaw lilin. Dan di dalam Islam, Allah SWT. tidak membiarkan para pencari kebenaran meraba-raba di dalam kegelapan:

257. Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah).

Al-Quran dan Pluralisme Agama

Sekelompok pemikir yang mengaku sebagai muslim bahkan mencoba mendukung teori pluralisme ini dengan ayat-ayat Al-Quran.

Sewaktu kita mendiskusikan konsep pluralisme dari pandangan Islam, sangatlah penting untuk mendefinisikan istilah ini dengan jelas. Pengertian pluralisme di dalam pandangan Islam digunakan di dalam dua arti: "Pluralisme Sosial" yang secara sosiologis berarti suatu masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok agama atau budaya yang berbeda. Dan "Pluralisme Agama" yang secara teologis berarti suatu konsep yang menganggap semua agama adalah benar dan berlaku.

Pluralisme Sosial

Sewaktu ajaran Islam berbicara mengenai pluralisme sosial, ya memang Islam menginginkan eksistensi bersama dan toleransi timbal balik antara penganut-penganut agama dan budaya yang berbeda. Di antara tiga agama samawi, hanya Islam yang mengakui pernah adanya kebenaran ajaran Yahudiyah dan Nashraniyah. Yahudiyah tidak pernah mengakui kenabian Isa (Yesus), dan Nashraniyah (Kristen) tidak mengakui kenabian Rasulullah Muhammad SAW.

Di dalam ajaran Islam, Allah SWT mengutus sebamyak 124 ribu nabi dan rasul, dari Adam as. sampai yang terakhir Rasulullah Muhammad SAW. Dan setiap muslim harus mempercayai hal ini, kalau tidak maka dia tidak dianggap muslim.

Kembali ke pluralisme sosial, Islam menginginkan eksistensi bersama dengan damai dengan semua agama dan budaya. Ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW. sendiri, sewaktu beliau membacakan surat Al-Kaafiruun kepada non-muslim Mekkah.

Bahkan sejarah membuktikan bahwa masyarakat muslim senantiasa memberikan perlakuan kepada minoritas non-muslim, terutama minoritas Kristen dan Yahudi, jauh lebih baik dari pemberlakuan yang dialami oleh minoritas di masyarakat Kristen Eropa.

Ira Lapidus, penulis sejarah Utsmaniyyah, mengatakan,"Pemimpin-pemimpin Ustmaniyyah, sebagaimana rejim-rejim muslim sebelumnya, menganggap komunitas non-muslim sebagai otonomi yang dependen, dalam arti mereka (non-muslim) mengatur sendiri kehidupan sosial, agama, dan komunal mereka, tetapi pemimpin mereka ditunjuk oleh dan bertanggung jawab kepada negara."

Pluralisme Agama

Banyak kerancuan di dalam hipotesa Hick dan para pengikutnya. Yang paling serius adalah usaha mereka membenarkan prinsip-prinsip ajaran-ajaran dari berbagai agama yang jelas-jelas kontradiktif: misalnya, monotheisme Islam yang kontradiktif dengan polytheisme Hinduisme; konsep kematian dan kebangkitan di dalam ajaran Islam dan Kristen dengan konsep reinkarnasi dan pencapaian tingkatan Nirvana di dalam ajaran Buddha; Trinitas yang kontradiktif dengan Tauhid di dalam Islam, dan lain-lain.

Secara singkat, kami meminta penjelasan dari Hick dan pengikutnya mengenai status Isa (Yesus) as. dari pandangan tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi. Bagaimana mereka (Hick dan kawan-kawan) akan mengeliminasi perbedaan pandang ketiga agama terhadap status Isa (Yesus) yang begitu saling bertentangan: Kristen dan Islam menyatakan Isa memiliki mukjizat sejak kelahirannya, Yahudi menyatakan tidak. Kristen dan Islam menyatakan Isa memiliki banyak mukjizat sewaktu dewasa, Yahudi menyatakan tidak. Kristen menyatakan Isa anak Tuhan, Islam menyatakan Isa Nabi dan Rasul, Yahudi menyatakan Isa bukan nabi, bukan rasul, bukan anak tuhan, tapi anak haram hasil perzinahan. Kristen menyatakan Isa memiliki injil-injil yang ditulis oleh orang-orang yang berbeda, Islam menyatakan Isa menerima Injil dari Allah SWT., Yahudi menyatakan Isa tidak menerima apa-apa. Kristen menyatakan Isa disalib sebagai tebusan dosa manusia dan dibangkitkan setelah tiga hari, Islam menyatakan Isa diangkat ke langit oleh Allah SWT, yahudi menyatakan Isa disalib dan mati.

Bagaimana Hick dan para pengikutnya membereskan satu masalah kecil ini? Ada ratusan bahkan ribuan masalah lagi yang harus mereka bereskan, dan tak akan bisa! kecuali dengan mengingkari semua ajaran agama untuk menerima hanya atheisme!

Bersambung...

Pengirim: Mutia Febrina




Entri Terbaru

Arsip

Penelusuran
 








Kalimantan SelatanAllahu Ghayatuna